Poltekkes Kemenkes Pontianak

User login

Indonesia Rawan Gizi?

Secara teori, penyebab masalah gizi adalah asupan makan. Penjelasan secara sederhana adalah pada orang yang kurang makan, maka ia akan kurus. Penyebab lain adalah penyakit infeksi. Juga bisa dijelaskan dengan sederhana, bahwa pada yag mengalami sakit maka akan terjadi penurunan nafsu makan, yang pada akhirnya akan kurus. Dalam hal ini, kurus adalah masalah gizi yang mudah dipahami karena secara kasat mata bisa dilihat. Dibanding pendek, masalah gizi kurus lebih mudah untuk menjadikan orang bersimpati. Namun sebenenarnya masalah pendek lebih serius dibanding kurus.
Banyak orang yang tidak setuju jika asupan akibat ketersediaan yang kurang adalah penyebab utama masalah gizi. Alasanya jelas, bahwa sumber bahan makanan di Indonesia sangat melimpah. Sayur bisa tumbuh di halaman, pematang sawah, batas tanah, tepian sungai, bekas ladang, bekas kandang kambing, bekas tempat sampah. Pergi ke hutan atau semak, pulang bawa sayur, atau umbi, atau jamur. Parit, sungai, danau, laut adalah sumber ikan yang tidak terbatas. Penjelasan tidak cukup disitu, karena secara statistik, produksi padi, jagung, ikan, daging, telur, umbi, buah, sayur adalah cukup dalam hitungan perkapita. Jika tidak cukup produksi karena masalah kultur tanah dan musim maka penjelasan untuk ketersediaan adalah cukup karena mekanisme perdagangan.
Untuk sementara bisa disimpulkan bahwa masalah gizi tidak disebabkan oleh asupan akibat ketersediaan bahan makanan. Tanah, air, hutan, ladang sawah dan sedikit campur tangan negara dapat dinyatakan bahwa mereka yang mengalami masalah gizi adalah karena mereka tidak tahu caranya makan yang baik. Saking sudahnya dikasih tahu, maka digunakan kata “bodoh” karena tidak sanggup mengusahakan diri sendiri agar bisa memenuhi asupan makan. Namun karena kata “bodoh” dianggap tidak sopan, maka diganti dengan pepatah yang sangat halus, yaitu: bagai anak ayam yang mati di tumpukan padi. Jika dicermati, sebenarnya hal ini lebih menyakitkan. Karena sakitnya tuh di sini ….
Mari kita uji, apakah kesimpulan ini sesuai atau tidak dengan keadaan yang sebenarnya. Berdasar kesepakatan internasional, parameter penentu indeks kelaparan adalah, tingkat kematian balita, jumlah balita kurang gizi dengan bobot kurang dari normal serta persentase orang yang kekuarangan gizi dari seluruh populasi warga. Menurut UNICEF, ada sekitar 150 ribu anak meninggal sebelum menginjak usia lima tahun. Dari data 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap masalah gizi kategori stunting, sementara untuk kasus gizi buruk tercatat sebanyak 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia.
Penyebab utama kelaparan adalah kemiskinan. Beberapa negara, peperangan membuat semua sendi kehidupan menjad berantakan dan penduduknya kelaparan. Di negara kita tercinta, semua sebab dari penyebab adalah pengelolaan sumber daya yang buruk. Sebenarnya sumber pangan bisa tumbuh subur di tanah Indonesia jika cukup air. Sebenarnya air bisa tersedia jika irigasi mampu menjangkau. Sebenarnya irigasi bisa diatur airnya jika ada waduk yang cukup. Sebenarnya waduk bisa dibangun jika ada kebijakan negara yang berpihak. Sebenarnya harga pangan bisa lebih murah jika tataniaga baik. Sebenarnya setiap orang bisa berandai-andai tapi apa yang mereka harapkan masih diangan-angan.
Sebagian tentu tidak setuju jika Indonesia disebut mengalami kelaparan. Yang paling tidak setuju adalah kepala desa, jika ada kelaparan terjadi di desa. Juga camat jika kelaparan terjadi di kecamatan. Bupati jika kelaparan di kabupaten. Dan seterusnya karena memang rasanya kelaparan adalah sangat mustahil terjadi. Mereka yang miskin diberi kartu sehat, kartu pintar, kartu sejahtera. Dan sejatinya, negara sudah melakukan upaya yang serius untuk menghilangkan kelaparan di bumi Indonesia.
Peneyebutan kelaparan rasanya terlalu berkonotasi negatif. Apalagi jika terjadi kematian akibat kelaparan. Ini bukan lagi anak ayam mati di lumbung padi, tetapi manusia meninggal di tengah masyarakat yang dermawan, toleran, peduli, baik hati, suka tolong menolong dan lain sebagainya sebagai sebutan umum masyarakat Indonesia.